BELA tampak serius memperhatikan cara membuat keris-kerisan dari janur. Bahkan meski melihat langsung dan dicontohkan, dia masih saja terlihat bingung dan tidak henti-hentinya bertanya.
"Ini bagaimana kak? Daunnya digimanakan? Mana yang ditekuk? Kok susah. Saya dari tadi nyoba gak bisa-bisa. Ini harusnya kelas lima yang bikin," kata Bela dengan sedikit menggerutu.
Ternyata Bela tidak sendiri. Ada Gani. Meski laki-laki dan keris identik dengannya, namun dia baru tahu jika janur bisa disulap menjadi salah satu senjata tradisional tersebut. Ketika ditanya permainan apa yang biasa dia mainkan dirumah, Gani hampir setiap hari duduk didepan komputer. "Gak tahu. Baru tahu dan nyoba pertama kali ini," katanya yang terlihat kurang bersemangat dalam membuat keris-kerisan.
Jika Bela dan Gani tampak kesulitan, tidak demikian dengan Rea. Meski juga baru pertama kali membuat keris-kerisan dari janur, teryata dia langsung bisa. Bahkan beberapa teman-temannya terlihat meminta bantuannya untuk membuatkan keris-kerisan. "Kalau dirumah mainan sama adik," katanya.
Ketiga anak ini merupakan siswa kelas 3 SD Model yang berada Dusun Botan Desa Wedomartani Kecamatan Ngemplak Sleman. Usai membuat keris-kerisan dari janur, mereka lalu diajak keluar ruangan untuk bermain engklek, gobag sodor, jamuran hingga lompat tali. Sebagian dari mereka memang baru mengenal permainan-permainan ini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari field program Anoman atau Ayo nyobi lan mersani dolanan anak dalam rangka Pemilihan Dimas Diajeng DIY 2014 dan melibatkan 85 pelajar kelas 3 SD Model. Menurut Ketua Kelompok 1 Arsyad Mustahid Rizqi, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan anak dengan permainan tradisional anak. Sebab sekarang ini, anak-anak cenderung disibukkan dengan gadget, sehingga interaksi sosial cenderung berkurang.
"Padahal dengan permainan tradisional, mereka secara tidak langsung telah belajar berinteraksi dengan sosial. Selain itu juga bisa menambah banyak teman karena rata-rata permainan tradisional dilakukan secara berkelompok," katanya kepada KRjogja.com di sela-sela kegiatan, Jumat (22/8/2014).
Menurutnya, Dimas Diajeng 2014 diikuti 30 peserta. Mereka terdiri dari 15 diajeng dan 15 dimas. Dari masing-masing kabupaten/kota di DIY diambil tiga pasang. Dari 30 peserta tersebut dibagi dalam tiga kelompok dengan kegiatan yang diserahkan dengan masing-masing kelompok. Puncak pemilihan Dimas Diajeng 2014 akan berlangsung 1 September 2014 di Panggung Terbuka Ramayana.(Atiek Widyastuti H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar